
Tahukah kamu? Seseorang baru merasa Jawa banget, Minang banget atau Indonesia banget, ketika ia tidak berada di wilayah domainnya itu. Nggak percaya? Coba deh, keluar dari daerah asalmu. Cobalah terjun ke sebuah komunitas atau masyarakat yang bukan wilayah domain kamu. Jika kamu orang Jawa, cobalah untuk tidak berada di tanah Jawa. Jika kamu orang Padang atau Aceh, cobalah untuk tidak berada di pulau Sumatera. Jika kamu mengaku orang Indonesia, cobalah untuk tidak berada di lingkup batas negara Indonesia. Niscaya, kamu akan merasakan sensasi kerinduan akan daerah asal kamu.
Aku pernah merasakan pengalaman di atas. Meski aku tidak merasa Jawa, karena sejak kecil orang tuaku yang berdarah Jawa telah melahirkan dan membesarkanku di tanah Sumatera. Sementara aku sendiri juga tidak merasa Sumatera, karena aku tidak bisa berdialek Minang maupun Melayu. Aku justru merasa Indonesia banget, ketika menjalani masa-masa sebagai mahasiswa pasca sarjana di Belanda. Ketika itu, tahun 2004, aku terdaftar sebagai mahasiswa S2 di Rijksuniversiteit Groningen.

Belajar bareng tak afdol kalau tidak berbahasa Indonesia
Sendirian di negeri yang asing dari segi kebudayaan, bahasa dan selera lidah membangkitkan naluri untuk mencari sesama mahasiswa yang berbudaya sama, berbahasa sama, bahkan berselera lidah yang sama. Itulah mengapa, aku merasa senang bila bertemu sesama mahasiswa Indonesia, baik itu di pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di kota Groningen maupun sekedar berpapasan dengan sesama orang Indonesia di Vismarkt atau di Grote Markt.
Lucu sekali. Ketika seharian lelah dan pegal menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas, aku merasa sangat senang ketika di penghujung hari bisa bertemu teman seasrama yang bisa berbahasa Indonesia. Aku bisa bercerita apa saja tentang pengalamanku di kelas pada hari itu, dengan bahasa Indonesia. Oooh, ternyata! Curhat dengan bahasa Indonesia telah menenteramkan hatiku yang galau karena beban tugas sebagai mahasiswa pasca sarjana.

Berangkat kuliah di Groningen, dengan bersepeda bersama.
Meski pernah juga curhat beberapa hal ke teman mahasiswa asing, tapi sensasinya berbeda. Dari situlah aku merasa, akarku adalah Indonesia. Aku merasa nyaman dengan bahasa yang kugunakan sejak aku kecil. Mungkin aku tidak seperti orang-orang yang bicara setengah bahasa Inggris, setengah bahasa Indonesia. Apalagi berbicara bahasa Indonesia dengan cengkok asing. Ternyata, meski satu setengah tahun hidup di negeri orang, tidak mengubah lidah dan aksen pengucapanku. Aku masih setia pada bahasa Indonesia!
Berada di negeri keju, tidak membuat seleraku terhadap nasi dan menu-menu nusantara menguap hilang. Rice cooker, penanak nasi elektrik adalah andalan kami, mahasiswa Indonesia. Orang bisa mengendus keberadaan mahasiswa Indonesia di sebuah asrama, jika melongok ke dapurnya. Jika rice cooker terpajang di dapur, itu berarti ada mahasiswa Indonesia tinggal di asrama itu! Hal ini disebabkan karena kami tak mungkin membeli nasi di restoran Belanda seharga 5 euro (waktu itu). Dengan uang bulanan minimal 650 euro, yang terpotong biaya kos sebesar 200 hingga 300 euro, belum lagi biaya kuliah dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, tentu tidak mungkin setiap kali makan membeli nasi seharga 5 euro. Kami memilih menanak nasi sendiri. Untunglah beras bisa didapat dengan mudah di toko-toko Asia.
Aroma tumis bawang putih juga menunjukkan bahwa dapur itu ‘mungkin’ berisi orang Indonesia. Ya, terus terang, lidah kami belumlah lengkap bila belum mengecap makanan-makanan Indonesia. Ada saat-saat ketika kami sangat merindukan menyantap soto atau ayam goreng dengan sambal terasi. Syukurlah, di Groningen terdapat sebuah toko, Toko Melati namanya, yang menjual produk-produk khas Indonesia. Mulai dari sambel pecel, bumbu soto, rendang, nasi goreng hingga tahu dan tempe, bahkan mie instan seperti Indomie pun dijual di toko tersebut. Jadi, kami masih dapat memelihara dan memanjakan perut kami dengan penganan nusantara. Perut nyaman, kegiatan belajar pun terjamin.
Acara-acara makan bersama mahasiswa Indonesia adalah acara yang paling menarik minat. Apalagi ketika bulan Ramadhan tiba. Secara bergiliran di beberapa rumah maupun asrama menggelar acara buka puasa bersama. Puluhan mahasiswa Indonesia pasti memenuhi undangan makan bersama seperti ini. Apalagi kalau menu yang disajikan adalah menu Indonesia, seperti sate, rendang, tempe, sambal terasi. Hmm.. melalui acara-acara kuliner seperti ini semangat ke-Indonesia-an kami justru menguat.
Orang akan langsung mengetahui bahwa para mahasiswa dari Indonesia adalah kelompok yang paling sering menggelar acara-acara kebersamaan. Sementara, mahasiswa asing lainnya tidak pernah terlihat berkumpul dengan jumlah demikian banyak. Mungkin tiga orang, tidak lebih. Kebersamaan, adalah ciri khas yang menunjukkan ke-Indonesia-an kami di Belanda.

Jejak kebersamaan kami di Groningen
Di akhir tahun 2004, ketika terdengar kabar tsunami menggulung bumi Aceh, rasa ke-Indonesia-an kami mencuat. Apalagi, beberapa dari kami memiliki sanak saudara di Aceh, termasuk aku. Suamiku tengah mencari nafkah di Aceh sebagai penggiat konservasi hutan dan gajah Sumatera. Hatiku kecut, ketika menyaksikan dahsyatnya kerusakan yang terjadi pasca tsunami melalui berita-berita di televisi. Semakin kecut lagi, karena selama beberapa hari tidak ada kabar mengenai suamiku.
Berkat peristiwa tsunami di Aceh, rasa solidaritas kami muncul. Organisasi PPI bergerak cepat merapatkan tentang apa yang bisa dilakukan untuk Aceh. Aksi penggalangan dana menjadi wujud solidaritas kami untuk Aceh, melalui panggung seni di Grote Markt. Semua anggota pelajar dan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Groningen dikerahkan, termasuk aku. Bahkan aku yang dulunya tidak tahu menari saman, tarian khas Aceh, dibela-belain belajar menari saman demi suksesnya acara penggalangan dana kami.
Sungguh, rasa ke-Indonesia-an kami sangat kental saat itu. Semua teman asing kami menanyakan, bagaimana kabar Aceh? Bagaimana kabar saudara-saudarimu di sana? Mereka tidak melihat, apakah kami orang Jawa, orang Batak, atau Ambon. Yang mereka tahu, kami orang Indonesia.

Melalui aksi solidaritas inilah aku menyaksikan, tidak adanya pengkotak-kotakan. Semua lebur menjadi satu. Yang Jawa, yang Cina-Jakarta, Batak, Ambon, Makassar, Sunda, Papua maupun yang muslim, kristiani, Hindu, Buddha, tak mengeksklusifkan diri dalam lingkup SARA mereka. Kami orang Indonesia dan kami ingin solider terhadap saudara-saudari kami di Aceh! Inilah momen penting di mana kami semua merasa paling Indonesia!
Dan, di puncak acara penggalanagan dana untuk Aceh, menitiklah air mata kami, ketika lagu ciptaan Ibu Sud ini kami lantunkan :
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
