SingTel Asian Picture Book Award

Sumber : http://www.bookcouncil.sg/_writers/SingTelAsianPictureBookAward.php

The National Book Development Council of Singapore is delighted to announce the inaugural SingTel Asian Picture Book Award. Beginning in 2013, the award will be presented annually for an outstanding unpublished picture book with a distinctly Asian theme.

The objectives of the SingTel Asian Picture Book Award are as follows:

a) To encourage and inspire the publications of more Asian-themed picture books
b) To stimulate public interest and support for picture books with Asian themes
c) To recognise and award a prize to an excellent picture book with Asian theme each year

The SingTel Asian Picture Book Award offers a total of S$10,000 for the First Prize consisting of S$5,000 for an author and S$5,000 for an illustrator. These will be individually known as the SingTel Asian Picture Book Award – Author, and the SingTel Asian Picture Book Award – Illustrator.

The first award will be given in May 2013, during the Asian Festival of Children’s Content – the Council’s flagship programme which is organised annually.

Organisers 
The SingTel Asian Picture Book Award is the joint initiative of the National Book Development Council of Singapore (NBDCS) and SingTel Singapore. The NBDCS founded in 1969 promotes reading and literature and champions literary works of Singaporean and Asians. Apart from organising a series of arts-related programmes, it currently manages the Singapore Literature Prize, the Hedwig Anuar Children’s Book Award and the Scholastic Asian Book Award.

SingTel Singapore is Asia’s leading communications group with operations and investments in more than 20 countries and territories around the world.

 SingTel Asian Picture Book Award 2013 Entry Form

Alamat Penerbit Buku Anak

(by Tethy Ezokanzo)

Ini dia penerbit-penerbit yang pernah menerbitkan bukuku (Tethy Ezokanzo), khusus yang anak-anak ya:

1. Kautsar Kids

Jl. Cipinang Muara No. 63  Jakarta Timur 13420

Telp. 021 – 8507590/ 8506702

Menerbitkan buku-buku Islam, contohnya bisa dilihat di: http://www.kautsar.co.id

Kirim naskah bisa by email ke: naskah.alkautsar@gmail.com

2. Gramedia Pustaka Utama

Gedung Kompas Gramedia, Jl. Palmerah Barat 33-37. Jakarta Selatan. Telp 021-53677835

Menerbitkan beragam buku, bisa lihat deh di toko buku

Kirim naskah lengkap by pos

3. Bhuana Ilmu Populer

Jl. Kebahagiaan No. 11-11A Jakarta. Telp 021- 6341230

4.Tiga Serangkai

Jl. Dr. Supomo No. 23 Solo 57141

Kirim naskah lewat mbak Windri ^-^

5. Salamadani Grafindo

Jl. Pasirwangi no. 1 Bandung

6. Ufuk Kecil

Jl. Kebagusan III, Komplek Nuansa 99, Psr. Minggu, Jakarta Selatan 12510

7. Talikata

Jl. Celebration BoulevardRuko Blok AA9 No 22 Grand Wisata Tambun Bekasi 17510 Telp. (021) 82615936

8.Erlangga For Kids

Jl. H. Baping Raya 100 Ciracas Jakarta Timur 13740

9.Puspa Swara

Jl.Gunung Sahari III No.7 Jakarta Pusat. Telp. 4204402

Selai itu saya pernah mengirim ke penerbit-penerbit lain, kebanyakan by pos. Tapi belum berjodoh terbit disana. Ada yang ditolak, belum ada kabar dan dalam proses.

Yakni ke :

10. Mizan

Jl. Cinambo no. 146 Cisaranten Wetan Bandung Telp. 022-7815500

Naskah lengkap kirim by pos

11.Bentang

By email ke: bentangbelia@yahoo.com

12. Elexmedia

Naskah lengkap by pos ke alamat sama dengan Gramedia

13. Andi

jl. Beo 38-40 Yogyakarta 55281

Kirim naskah lengkap by pos

14. Luxima

Jl. Kalisari III No. 28A, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Telp. 021-91214048

15.  Dzikrul

16.  Gema Insani

17.  Bumi Aksara Kids

18.  Little Serambi

19. Wahyu Media

Maaf, yang 15 dst lupa alamatnya, googling aja lah mudah ^-^

untuk neropong dikit-dikit tentang style buku yang diterbitkan, bisa dilihat di blog saya:

http://ezokanzo.blogdetik.com

Tambahan dari Mbak Dian Kristiani :

Kanisius –> ada website yang bisa dipelajari

By email ke redaksi@kanisiusmedia.com

 

Cikal Aksara –> ada website yang bisa dipelajari

By email ke cikalaksara@agromedia.net

 

Anak Kita –> ada website yang bisa dipelajari

by email ke redaksi@anakkita.co.id (silakan didouble check lagi)

 

 

Ikuti dan Menangkan Hadiahnya!

Rumah123 Blogger Writing Competition

Rebutan Rumah Gratis!

Mengenai Rumah123 Bloggers Writing Competition :

Rumah123 Blogger Writing Competition adalah kompetisi untuk para blogger yang bertujuan menyebarkan informasi tentang adanya program kontes dari Rumah123.com yang berhadiah rumah dan hadiah lain total senilai 500 juta rupiah. Kompetisi ini diadakan oleh Rumah123.com yang merupakan Situs Properti No 1 di Indonesia.

Rumah123 Blogger Writing Competition terbuka untuk masyarakat umum, blogger, mahasiswa/pelajar, penulis, dan penggiat media online. Pada kompetisi ini para peserta diharuskan membuat sebuah karya tulis yang sesuai dengan tema kontes yang diselenggarakan oleh Rumah123.

Pendaftaran

  • Pendaftaran Rumah123 Blogger Writing Competition tidak dipungut biaya terbuka untuk masyarakat umum, blogger, mahasiswa/pelajar, penulis, dan penggiat media online.
  • Peserta wajib mendaftar terlebih dahulu di http://blog.rumah123.com/rumahgratis/

Syarat & Ketentuan

  • Karya harus orisinal dan bukan hasil terjemahan, saduran, atau plagiarisme.
  • Karya bersifat baru, belum pernah ditayangkan di blog manapun, dan tidak sedang atau pernah diikutsertakan pada kompetisi apapun.
  • Tidak diperbolehkan adanya unsur pornografi, diskriminasi, atau tindakan yang melanggar hukum.
  • Umur dari domain blog tersebut minimal 3 bulan atau merupakan blog yang telah terverifikasi pada blog bersama.
  • Hanya peserta yang terdaftar yang dapat bersaing dan memenangkan hadiah yang disediakan panitia.
  • Satu orang hanya dapat memperoleh satu hadiah. Peserta boleh mendaftarkan lebih dari satu karya tulis pada beberapa blog dengan syarat nama peserta dan nomor KTP yang didaftarkan harus sama. Nama berbeda tapi orangnya sama akan di diskualifikasi.
  • Peserta wajib “like” Facebook fanpage http://www.facebook.com/Rumah123 dan follow twitterhttp://twitter.com/rumah123
  • Karya tulis yang diikutsertakan pada kompetisi ini dapat dipasang pada blog pribadi/individual maupun blog bersama seperti contoh pada kompasiana.

Kata kunci dan sudut pandang penulisan

  • Rebutan Rumah Gratis Semudah 1-2-3
  1. Mudahnya mencari properti secara online di Rumah123.com
  2. Rebutan rumah gratis sebagai kontes online terbesar yang diadakan oleh situs online properti di Indonesia.
  3. Rumah123.com memberikan kesempatan kepada siapa saja, masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah, “a place to call home
  • Setiap tulisan wajib mencantumkan link yang menyebutkan kontes acara Rebutan Rumah Gratis ini ke landing page http://RumahGratis.Rumah123.com.
  • Setiap blog post juga wajib mencantumkan link dengan anchor link “mudah cari rumah” (tanpa tanda kutip) ke main site http://www.Rumah123.com
  • Peserta wajib mencantumkan official banner event Rebutan Rumah Gratis! yang bisa diunduh disini untuk versi JPG dan disini untuk versi FLASH
  • Menambahkan official logo event Rebutan Rumah Gratis! yang diunduh dari website rumah123.com (bisa diunduh di http://blog.rumah123.com/rumahgratis
  • Setiap karya tulis wajib menambahkan tag “rumah123” agar cepat terindex oleh Google.
  • Jumlah kata di karya tulis minimal 500 dan maksimal sampai 1500 kata.

Penilaian:

  • Karya tulis yang diikutsertakan paling lambat dipasang pada blog per 31 Juli 2012.
  • Penilaian seluruh karya akan dilakukan pada tanggal 2 Agustus  2012.
  • Kriteria penilaian adalah
    • Originalitas karya tulis/posting;
    • Kesesuaian isi dengan tema
    • Cara penyajian karya tulis dan gaya bahasa yang digunakan
    • Jumlah pemberi komentar terhadap tulisan
    • Jumlah referral traffic yang dihasilkan dari karya tulis ke event Rebutan Rumah Gratis dilihat dari Google Analytics
  • Blogging Competition ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai konten relevansinya.
  • Relevansi konten sangat diperhatikan dalam penjurian, sehingga buatlah konten berbahasa Indonesia dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan sesuai dengan kontes yang sedang diselenggarakan oleh Rumah123.com.
  • Sumber acuan dan informasi lain untuk penulisan karya tulis dapat dilihat di blog Rumah123.comhttp://blog.rumah123.com/kontes-blogging
  • Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat..

Pemenang dan Hadiah

100 peserta pertama yang memenuhi kualifikasi akan mendapatkan T-Shirt dan Merchandise Rumah123 yang akan dikirim langsung ke alamat masing-masing.

Juara pertama

: 1 unit Galaxy Tab

Juara kedua

: 1 unit Blackberry 9220

Juara ketiga  

: 1 unit Galaxy Pocket

Untuk pertanyaan seputar Rumah123 Blogger Writing Competition, silahkan hubungi email:rumahgratis@rumah123.com

 Sumber : http://blog.rumah123.com/kontes-blogging

Memaknai Titik Nol, Menjadi Paling Indonesia

Tugu Nol Kilometer yang berlokasi di sisi utara Pulau Weh itu berdiri megah membisu, menghadap gagah ke arah samudera Indonesia. Dengan ketinggian 22.5 meter, berpulaskan cat putih serta berbentuk melingkar, tugu itu berdiri di tengah kesunyian pepohonan rapat yang melingkupinya. Berkawan kera-kera yang mulai terbiasa meminta penganan pada wisatawan yang berkunjung, ia merupakan simbol dimulainya teritori negara kepulauan Indonesia di sisi barat.

Tugu Nol Kilometer di Pulau Weh

Di sisi paling timur Indonesia, di kota Merauke, terdapat tugu nol kilometer yang sama, yang menjadi simbol batas teritori paling barat dari nusantara kita tercinta ini. Keberadaan tugu kembar itu mengingatkan kita pada lagu perjuangan berjudul “Dari Sabang sampai Merauke”.

Teks lagu yang awalnya hanya ditulis “Dari Barat sampai ke Timur” kemudian diganti oleh Bung Karno dengan nama kota yang berada di sisi barat dan timur, yaitu Sabang dan Merauke.

Mari kita simak teksnya sebagai berikut :
“Dari Sabang sampai Merauke,
berjajar pulau-pulau.
Sambung menyambung menjadi satu,
Itulah Indonesia.
Indonesia tanah airku,
Aku berjanji padamu.
Menjunjung tanah airku,
Tanah airku Indonesia”

Dari teks lagu di atas, tersirat ajakan bagi bangsa Indonesia untuk menghargai tanah airnya sendiri. Dengan kata lain, lagu tersebut mengajak warga negara Indonesia untuk memperkuat rasa paling Indonesia, dengan menghargai, menjaga, melestarikan batas kedaulatan wilayah nusantara dari Sabang sampai Merauke. Namun, seberapa jauh ajakan dari lagu tersebut diamalkan oleh bangsa Indonesia?

Penulis dan buah hatinya berfoto di daerah tugu nol kilometer, Sabang-Pulau Weh

Fungsi Sebuah Tugu

Sebuah tugu, prasasti atau monumen berfungsi sebagai penanda atau pengingat tentang pentingnya sebuah peristiwa maupun teritori tertentu. Sejak jaman manusia prasejarah hingga peradaban modern, tugu telah digunakan sebagai simbol untuk memperingati suatu peristiwa. Contohnya, batu menhir yang digunakan manusia prasejarah di jaman megalitikum. Batu menhir terbuat dari batu berukuran besar dan memanjang yang diletakkan di permukaan tanah secara vertikal. Fungsi batu menhir bagi manusia prasejarah adalah tempat mengenang arwah nenek moyang.

Dalam tradisi suku Batak, tugu juga digunakan untuk penanda eksistensi suatu marga. Di India, tugu disebut stamba, yang merupakan peringatan akan berdirinya sebuah kampung. Suku asli benua Amerika menggunakan tugu sebagai tanda sebuah pemukiman dan penanda kubur kepala suku. Di Indonesia masa kini, tugu digunakan dengan tujuan mengenang peristiwa penting seperti Tugu Pahlawan di Surabaya. Tugu juga digunakan sebagai penanda ciri khas wilayah, seperti monumen khatulistiwa di Pontianak.

Selain itu, tugu digunakan sebagai tolok ukur atau pangkal pengukuran bentang wilayah, seperti tugu nol kilometer di Sabang, tugu nol kilometer jalan raya Anyer-Panarukan, kawasan nol kilometer kota Yogyakarta yang terletak di antara alun-alun utara dan tugu Ngejaman di selatan Malioboro, atau tugu nol kilometer kota Semarang yang terletak di kawasan kota lama.

Apa pentingnya tugu nol kilometer ini, selain sebagai titik pangkal pengukuran sebuah wilayah? Apakah ia cukup bermakna bagi kehidupan masyarakat Indonesia? Apakah sebuah tugu mampu membangkitkan rasa ‘paling Indonesia’ bagi kita?

Makna Tugu Titik Nol dalam Hidup Manusia

Apakah makna sebuah titik nol selain sebagai awal dari sebuah pengukuran? Titik nol, bukan berarti kosong atau nihil. Titik nol justru menjadi penyeimbang antara kutub negatif dan positif. Titik nol adalah awal dari sesuatu yang mengada.
Kehidupan manusia juga semarak dengan angka nol. Tapi, itu tergantung dari niat setiap orang dalam memaknai sebuah titik nol. Apakah ia mau maju ke arah yang positif atau mundur ke arah negatif?

Usia manusia diawali dari nol, yaitu di dalam pertemuan antara ibu dan ayah yang kemudian menghasilkan anak. Proses belajar manusia diawali dari titik nol, yaitu dari bayi yang tidak mampu berbicara dan mengutarakan keinginan menjadi manusia dewasa yang bebas berpendapat dan memilih nasibnya sendiri.

Bayi adalah titik nol kehidupan manusia

Nol adalah fitrah manusia. Kita sering mengungkapkan tentang kembalinya manusia kepada fitrahnya. Kembali pada titik nol. Kembali pada kemurnian manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME yang berakal budi. Untuk apa? Sebagaimana fungsi titik nol sebagai titik tolak pengukuran, maka titik nol atau fitrah manusia adalah tolok ukur manusia untuk merefleksikan kondisi dirinya. Sejauh mana ia telah berperan baik di dalam masyarakatnya? Sejauh mana ia telah menjalankan hak dan kewajibannya sebagai manusia? Sudahkah perbuatannya sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta?

Jika manusia telah berjalan di arah yang negatif, maka ia perlu kembali ke titik nol untuk mengarah pada hal-hal yang positif. Jika manusia telah berjalan di jalur positif, ia perlu sesekali melihat ke titik nol, untuk mengukur sejauh mana ia sudah berjalan dan untuk mengingat kembali tujuan awal ‘perjalanan’ kehidupannya.

Refleksi Titik Nol bagi Nasionalisme Indonesia

Titik nol adalah awal perjuangan Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa. Titik nol adalah ikrar yang diucapkan kala rakyat Indonesia memerdekakan diri dari penjajahan bangsa asing. Sudahkah bangsa ini maju sesuai janji yang telah diikrarkan dahulu?

Menjadi paling Indonesia adalah kembali ke titik nol. Kembali pada kemurnian sumpah yang diucapkan oleh para pejuang kemerdekaan dan proklamator negara kita. Menjadi paling Indonesia adalah memperbaharui janji tersebut di dalam hati kita masing-masing, untuk membebaskan negara kita dari penjajahan modern : korupsi, pengrusakan moral, narkoba, pengaruh budaya asing yang menodai budaya nusantara dan sebagainya.

Sudah saatnya kita menegakkan tugu titik nol di sanubari kita masing-masing.
Saatnya menanamkan janji untuk berlaku sebagai manusia yang paling Indonesia, dengan menghargai nilai budaya nusantara serta nilai perjuangan para pendahulu kita. Semoga.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Paling Indonesia, kerja sama komunitas blogger Makassar Anging Mamiri dan Telkomsel.

Sayembara Novel DKJ 2012

SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2012

 Link klik di sini.

Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya adalah sebagai berikut.

Ketentuan Umum

  • Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
  • Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
  • Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
  • Tema bebas.
  • Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).

Ketentuan Khusus

  • Panjang naskah minimal 150 halaman A4, spasi 1,5, Times New Roman ukuran 12.
  • Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap pada lembar tersendiri, di luar naskah.
  • Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:

Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2012

Dewan Kesenian Jakarta

Jl. Cikini Raya 73

Jakarta 10330

  • Batas akhir pengiriman naskah: 30 Agustus 2012 (cap pos atau diantar langsung).

Lain-lain

  • Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2012 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada bulan Desember 2012.
  • Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
  • Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
  • Pajak ditanggung pemenang.
  • Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2009-2012 dan keluarga inti Dewan Juri.
  • Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id.
  • Dewan Juri terdiri dari kalangan sastrawan dan akademisi sastra.

Hadiah

Pemenang Utama : Rp. 20,000,000,-

Empat Unggulan : @ Rp.4,000,000,-

Nasionalisme di Negeri Asing

Tahukah kamu? Seseorang baru merasa Jawa banget, Minang banget atau Indonesia banget, ketika ia tidak berada di wilayah domainnya itu. Nggak percaya? Coba deh, keluar dari daerah asalmu. Cobalah terjun ke sebuah komunitas atau masyarakat yang bukan wilayah domain kamu. Jika kamu orang Jawa, cobalah untuk tidak berada di tanah Jawa. Jika kamu orang Padang atau Aceh, cobalah untuk tidak berada di pulau Sumatera. Jika kamu mengaku orang Indonesia, cobalah untuk tidak berada di lingkup batas negara Indonesia. Niscaya, kamu akan merasakan sensasi kerinduan akan daerah asal kamu.

Aku pernah merasakan pengalaman di atas. Meski aku tidak merasa Jawa, karena sejak kecil orang tuaku yang berdarah Jawa telah melahirkan dan membesarkanku di tanah Sumatera. Sementara aku sendiri juga tidak merasa Sumatera, karena aku tidak bisa berdialek Minang maupun Melayu. Aku justru merasa Indonesia banget, ketika menjalani masa-masa sebagai mahasiswa pasca sarjana di Belanda. Ketika itu, tahun 2004, aku terdaftar sebagai mahasiswa S2 di Rijksuniversiteit Groningen.

Belajar bareng tak afdol kalau tidak berbahasa Indonesia

Sendirian di negeri yang asing dari segi kebudayaan, bahasa dan selera lidah membangkitkan naluri untuk mencari sesama mahasiswa yang berbudaya sama, berbahasa sama, bahkan berselera lidah yang sama. Itulah mengapa, aku merasa senang bila bertemu sesama mahasiswa Indonesia, baik itu di pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di kota Groningen maupun sekedar berpapasan dengan sesama orang Indonesia di Vismarkt atau di Grote Markt.

Lucu sekali. Ketika seharian lelah dan pegal menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas, aku merasa sangat senang ketika di penghujung hari bisa bertemu teman seasrama yang bisa berbahasa Indonesia. Aku bisa bercerita apa saja tentang pengalamanku di kelas pada hari itu, dengan bahasa Indonesia. Oooh, ternyata! Curhat dengan bahasa Indonesia telah menenteramkan hatiku yang galau karena beban tugas sebagai mahasiswa pasca sarjana.

Berangkat kuliah di Groningen, dengan bersepeda bersama.

Meski pernah juga curhat beberapa hal ke teman mahasiswa asing, tapi sensasinya berbeda. Dari situlah aku merasa, akarku adalah Indonesia. Aku merasa nyaman dengan bahasa yang kugunakan sejak aku kecil. Mungkin aku tidak seperti orang-orang yang bicara setengah bahasa Inggris, setengah bahasa Indonesia. Apalagi berbicara bahasa Indonesia dengan cengkok asing. Ternyata, meski satu setengah tahun hidup di negeri orang, tidak mengubah lidah dan aksen pengucapanku. Aku masih setia pada bahasa Indonesia!

Berada di negeri keju, tidak membuat seleraku terhadap nasi dan menu-menu nusantara menguap hilang. Rice cooker, penanak nasi elektrik adalah andalan kami, mahasiswa Indonesia. Orang bisa mengendus keberadaan mahasiswa Indonesia di sebuah asrama, jika melongok ke dapurnya. Jika rice cooker terpajang di dapur, itu berarti ada mahasiswa Indonesia tinggal di asrama itu! Hal ini disebabkan karena kami tak mungkin membeli nasi di restoran Belanda seharga 5 euro (waktu itu). Dengan uang bulanan minimal 650 euro, yang terpotong biaya kos sebesar 200 hingga 300 euro, belum lagi biaya kuliah dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, tentu tidak mungkin setiap kali makan membeli nasi seharga 5 euro. Kami memilih menanak nasi sendiri. Untunglah beras bisa didapat dengan mudah di toko-toko Asia.

Aroma tumis bawang putih juga menunjukkan bahwa dapur itu ‘mungkin’ berisi orang Indonesia. Ya, terus terang, lidah kami belumlah lengkap bila belum mengecap makanan-makanan Indonesia. Ada saat-saat ketika kami sangat merindukan menyantap soto atau ayam goreng dengan sambal terasi. Syukurlah, di Groningen terdapat sebuah toko, Toko Melati namanya, yang menjual produk-produk khas Indonesia. Mulai dari sambel pecel, bumbu soto, rendang, nasi goreng hingga tahu dan tempe, bahkan mie instan seperti Indomie pun dijual di toko tersebut. Jadi, kami masih dapat memelihara dan memanjakan perut kami dengan penganan nusantara. Perut nyaman, kegiatan belajar pun terjamin.

Acara-acara makan bersama mahasiswa Indonesia adalah acara yang paling menarik minat. Apalagi ketika bulan Ramadhan tiba. Secara bergiliran di beberapa rumah maupun asrama menggelar acara buka puasa bersama. Puluhan mahasiswa Indonesia pasti memenuhi undangan makan bersama seperti ini. Apalagi kalau menu yang disajikan adalah menu Indonesia, seperti sate, rendang, tempe, sambal terasi. Hmm.. melalui acara-acara kuliner seperti ini semangat ke-Indonesia-an kami justru menguat.

Orang akan langsung mengetahui bahwa para mahasiswa dari Indonesia adalah kelompok yang paling sering menggelar acara-acara kebersamaan. Sementara, mahasiswa asing lainnya tidak pernah terlihat berkumpul dengan jumlah demikian banyak. Mungkin tiga orang, tidak lebih. Kebersamaan, adalah ciri khas yang menunjukkan ke-Indonesia-an kami di Belanda.

Jejak kebersamaan kami di Groningen

Di akhir tahun 2004, ketika terdengar kabar tsunami menggulung bumi Aceh, rasa ke-Indonesia-an kami mencuat. Apalagi, beberapa dari kami memiliki sanak saudara di Aceh, termasuk aku. Suamiku tengah mencari nafkah di Aceh sebagai penggiat konservasi hutan dan gajah Sumatera. Hatiku kecut, ketika menyaksikan dahsyatnya kerusakan yang terjadi pasca tsunami melalui berita-berita di televisi. Semakin kecut lagi, karena selama beberapa hari tidak ada kabar mengenai suamiku.

Berkat peristiwa tsunami di Aceh, rasa solidaritas kami muncul. Organisasi PPI bergerak cepat merapatkan tentang apa yang bisa dilakukan untuk Aceh. Aksi penggalangan dana menjadi wujud solidaritas kami untuk Aceh, melalui panggung seni di Grote Markt. Semua anggota pelajar dan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Groningen dikerahkan, termasuk aku. Bahkan aku yang dulunya tidak tahu menari saman, tarian khas Aceh, dibela-belain belajar menari saman demi suksesnya acara penggalangan dana kami.

Sungguh, rasa ke-Indonesia-an kami sangat kental saat itu. Semua teman asing kami menanyakan, bagaimana kabar Aceh? Bagaimana kabar saudara-saudarimu di sana? Mereka tidak melihat, apakah kami orang Jawa, orang Batak, atau Ambon. Yang mereka tahu, kami orang Indonesia.

Melalui aksi solidaritas inilah aku menyaksikan, tidak adanya pengkotak-kotakan. Semua lebur menjadi satu. Yang Jawa, yang Cina-Jakarta, Batak, Ambon, Makassar, Sunda, Papua maupun yang muslim, kristiani, Hindu, Buddha, tak mengeksklusifkan diri dalam lingkup SARA mereka. Kami orang Indonesia dan kami ingin solider terhadap saudara-saudari kami di Aceh! Inilah momen penting di mana kami semua merasa paling Indonesia!

Dan, di puncak acara penggalanagan dana untuk Aceh, menitiklah air mata kami, ketika lagu ciptaan Ibu Sud ini kami lantunkan :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai

Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Di sanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan

 

Mengurus rumah tangga = Mengurus segalanya

Mau cerita sedikit ah, tentang pembangunan rumah. Dari awal mula membeli rumah sampai proses finishing rumah tersebut semuanya aku sendiri yang melakukan. Urusan jual beli dengan kontraktor aku yang lakukan sampai akhirnya nama yang tertera di SHM juga namaku. Cat dinding dan keramik lantai, aku sendiri yang memilih. Bahkan nego untuk upah kerja dengan tukang pun aku yang lakukan.

Kita semua tahu, wibi sangat sibuk dengan pekerjaannya, jadi hanya sekali-sekali dia memantau langsung ke lokasi pembangunan. Paling-paling dia tau update-nya dari aku dan kalo aku perlu sedikit pendapat darinya, apakah bisa pasang ini di situ atau bisakah kita lakukan begini terhadap itu. Selebihnya, tahu beres… Well, aku tidak mengeluh karena sendirian melakukannya. Peran wibi sebagai papa/bapak/ayah tetap penting dalam rumah tangga kami, dan dalam hal ini, aku merasa diberi kebebasan untuk berkreasi terhadap rumah.

Yang lucu, ketika berurusan dengan tukang-tukang bangunan ini, aku ketemu dengan ibu-ibu yang perannya sama kayak aku. Suami-suami mereka sibuk dengan pekerjaan di kantor (atau ke luar kota) dan para ibu tersebutlah yang sehari-harinya berurusan dengan tukang. Jadi aku dapet tukang A karena dikenalin oleh ibu B, aku dapet tukang C karena dikenalin oleh ibu D. Begitu seterusnya.

Aku jadi teringat ketika aku dan wibi mau membuat Kartu Keluarga baru (pindah dari desa Batoh ke desa Ie Masen Kayee Adang). Wibi paling males berurusan dengan birokrasi seperti itu. Surat pindah dari Geuchik (kepala desa) Batoh sudah diuruskan oleh Bang Din, kenalan baik kami. Proses selanjutnya, aku yang melakukan : lapor ke kecamatan Lueng Bata, lapor lagi ke kantor desa Ie Masen Kayee Adang. Di kantor desa disarankan kalo mau buat KK dan KTP harus bersama-sama dengan kepala keluarga. Proses pembuatan KTP dan KK untuk kota Banda Aceh berpusat di kantor catatan sipil jalan Pocut Baren. Maka, hal itu kemudian aku sampaikan ke wibi. Secara konstruksi sosial, suami adalah kepala keluarga. Kan begitu?

Hari pertama mau bikin KTP, wibi harus meeting dulu di kantor. Baru selesai jam 11 lewat. Sehingga kami tiba di kantor catatan sipil jam 12-an. Saat itu, aplikasi kami sudah ditolak dengan alasan istirahat siang dan sembahyang. Disuruh datang lagi jam 2 siang. Wibi sudah mulai menggerutu di situ. Kalo begini caranya, apa tidak bisa kepala keluarganya ditukar saja, katanya. Maksudnya, kalo akhirnya yang punya lebih banyak waktu untuk mengurus birokrasi di sini adalah aku, kenapa bukan aku saja yang jadi kepala keluarganya? Toh itu hanya status. Aku ketawa geli melihat kegusarannya.

Jam 2 wibi ada meeting lagi, maka diputuskan besok pagi-pagi kami datang lagi ke kantor catatan sipil itu. So, keesokan paginya, kami datang lagi. Aku yang masuk ke kantor itu, sementara wibi sudah mulai sibuk menjawab panggilan-panggilan di ponselnya (dia duduk di luar sambil terima telpon). Prosesnya ternyata cuma datang ke meja pendaftaran untuk bikin KTP, bawa surat pengantar dari kantor desa dan pas foto. Petugas kemudian mencatat di buku besar dan kami diberikan secarik kertas kecil bertulisan tanggal kapan KTP bisa diambil. Selesai. Aku keluar dari kantor itu dengan lega. Ah, sebenarnya wibi pun tidak perlu datang kalo begini prosesnya. Aku aja bisa melakukannya sendiri. Hehe..

Inilah fakta menjadi ibu rumah tangga. Mengurus rumah tangga, mengurus segalanya. Dari beberes rumah, masak, membayar tagihan-tagihan, menabung, berurusan dengan tukang dan birokrasi dan banyak lagi. Dulu aku pernah heran, kenapa mamaku tidak meneruskan karirnya sebagai perawat. Ternyata oh ternyata, mengurus rumah tangga adalah profesi tersendiri yang justru tidak pernah dianggap. Dan seandainya dia tetap meneruskan karirnya sebagai perawat – yang tahu dong, ritme kerjanya bisa night and day gitu…- mungkin jalan hidup kami pun berbeda. Mungkin, UMPTN enggak ada yang nemenin (hehe.. ingat nggak ma, sepanjang jalan kenangan?).
Kalo soal mewujudkan impian dan cita-cita.. hmm.. memang itu masih jadi permenunganku sampai saat ini. Mampukah aku mewujudkan cita-cita sembari mengurus rumah tangga…

Di kantor catatan sipil, waktu itu, aku tidak ragu lagi mengatakan apa pekerjaanku : mengurus rumah tangga. Nggak percaya? Silakan cek KTP-ku nih…

Dimuat juga di dalam blog pribadi saya yang terdahulu.